Aku terpaku memandang air laut yang bergejolak,
anganku melayang pada keluargaku di Pulau Sumatera. Rasa bersalah terus
menyelimuti benakku, namun Aku mencoba menghapus semua bayang-bayang itu.
“Ibu, Bapak, maafkan Aku yang pergi
meninggalkan kalian walaupun kalian tidak memberi restu sepenuhnya kepadaku,
tapi aku janji! Aku akan pulang dengan membawa bendera kebanggan untuk kalian,
aku tidak akan pulang dengan tangan hampa, Ibu, Bapak do’akan anakmu disini,”
kata-kata itu terus terucap dalam hatiku.
Dinginnya angin laut menusuk kulitku
yang sedari tadi duduk sendirian di atas kapal. Kryuuk! Perutku terdengar
berbunyi, tapi aku mencoba menahannya, karena Aku hanya membawa uang pas-pasan.
“Permisi mbak, boleh Saya duduk di
sini?” Tanya seorang pemuda yang tidak ku kenal kepadaku.
Aku
tersenyum dan menganggukkan kepala, ia membalas senyumku dan duduk di
sampingku. Aku melihat Dia memakan mie instan dengan lahapnya, aroma yang
keluar dari mangkuknya membuat perutku kembali berbunyi.
“Mbak mau mie? kebetulan saya
membawa lebih” dia memberikan semangkuk mie kepadaku.
Aku tidak mau langsung menerima pemberian
orang yang tidak ku kenal, yah walaupun artinya aku berprasangka buruk terhadap
orang lain.
“Ah terimakasih, tapi maaf saya
sudah kenyang,” Kryuuk! Baru saja Aku selesai bicara, tiba-tiba perutku sudah
berbunyi, dan kali ini di dengar olehnya.
Wajahku
langsung memerah, betapa malunya Aku. Dia tersenyum lalu kembali memberikan
semangkuk mie itu.
“Sudah tidak apa-apa mbak makan
saja, saya ikhlas saya tidak berniat jahat kok,” Dia mencoba meyakinkanku.
Aku
tidak enak hati mendengar perkataannya, seolah-olah Dia tahu kalau aku sudah
berburuk sangka kepadanya. Aku mengambil mie itu lalu mengucapkan terimakasih,
ia juga memberiku sebotol air mineral.
“Mbak mau kemana?” ia kembali
membuka pembicaraan.
“Ke Bogor,” Aku hanya menjawab
dengan singkat karena sedang menikmati mie instan yang di berinya tadi.
“Wah sama, Saya juga mau ke Bogor,
ke Institut Pertanian Bogor,” Dia menceritakan tujuannya walaupun Aku tidak
menanyakannya.
Aku
sedikit terkejut mendengar perkataannya, karena sebenarnya Aku juga akan pergi
ke Institut Pertanian Bogor atau yang lebih di kenal dengan sebutan IPB.
“Kamu mahasiswa di sana?” Rasa
penasaranpun akhirnya tumbuh di dalam benakku.
“Iya,
Saya mahasiswa semester tujuh di IPB,” jawabnya dengan tersenyum. Aku semakin
terkejut, ternyata dia kakak tingkatku.
“Mbak sendiri ke Bogor mau ke mana?
Ke tempat keluarga atau hanya jalan-jalan saja?” Kali ini pertanyaannya tidak
langsung Aku jawab.
Jujur? Atau tidak? Pertanyaan itu menyelimuti
benakku, apakah aku harus jujur?
“Atau
mbak mahasiswi IPB ya?” pertanyaannya hampir membuatku tersedak.
Apakah
dia bisa membaca pikiran orang lain? Aku memandangnya dengan tatapan aneh. Dia
mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan tatapanku.
“Mbak?” tanyanya sekali lagi
membuatku tersadar dan langsung mengalihkan pandangan.
“Emm, sebenarnya saya mau ke IPB
juga, saya mahasiswa baru di IPB,” jawabku dengan malu.
Ya
aku malu karena sudah merepotkan orang lain yang ternyata adalah seniorku. Aku
melihat raut wajahnya berubah ketika mendengar jawabanku, ia tampak seperti
sedang bertemu dengan keluarganya.
Hemm orang yang ramah
“Wah
ternyata kamu mahasiswi IPB, perkenalkan nama Saya Arya, Saya dari departemen
Budidaya Perairan,” Kak Arya mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku
menyambut tangannya dan memperkenalkan diriku juga.
“Nama
Saya Dewi dari departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, salam kenal Kak,”
Aku tersenyum dan mencoba bersikap ramah kepada Kak Arya.
Tanpa
Kami sadari ternyata kapal yang kami naiki telah sampai di Pelabuhan Merak,
kami segera menuju bis dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat. Lima jam
kemudian kami akhirnya sampai di IPB. Aku merasa sangat lega, akhirnya aku bisa
mengakhiri perjalananku yang sangat melelahkan. Jam menunjukkan pukul 07.00
WIB, sementara aku melakukan wawancara pukul 09.00 WIB. Aku duduk di halte
Fakultas Pertanian, Aku masih bingung harus kemana, IPB masih terlihat sangat
asing bagiku. Aku melihat ke sekeililingku.
Dimana Kak Arya?
Tiba-tiba
saja Kak Arya menghilang tanpa pamit. Padahal aku berharap dia menemaniku
sampai aku selesai wawancara. Tapi itu tidak mungkin, dia punya kesibukan lain.
Aku? Aku hanya orang yang baru di kenalnya beberapa jam lalu, tidak mungkin dia
lebih mementingkan Aku.
“Dewi,
nih Kakak belikan minum, kamu pasti haus kan?”
Aku
langsung menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kak Arya berdiri di sampingku
sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam sebotol minuman.
Huh sudah berapa kali
aku berburuk sangka kepada Kak Arya.
Aku
mengambil minuman yang di berikannya kepadaku, Aku membuka minuman itu dan
langsung meminumnya sampai habis.
“Huwaa,
hahaha ternyata kamu sangat haus ya Wi,” Kak Arya tertawa, kemudian ia duduk di
sampingku.
“Kamu
mau menginap dimana?” Tanya Kak Arya kepadaku.
Aku
hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu harus tinggal dimana, tujuanku dari
awal hanya kampus IPB, Aku tidak memikirkan tempatku tinggal dimana. Seandainya
Aku harus tinggal di masjid, maka Aku akan tidur di masjid. Tekadku sudah bulat
untuk menuntut ilmu disini, Aku tidak takut dengan kemungkinan yang ada.
“Wi
jangan bilang kamu mau tinggal di masjid.”
“Hah!”
Aku langsung menoleh ke arah Kak Arya dengan tatapan aneh.
Kakak satu ini
benar-benar bisa membaca pikiran orang lain.
“Kok
tatapannya begitu sih? Jangan-jangan benar ya kamu mau tinggal di masjid,” Kini
Kak Arya balik menatapku dengan tatapan tajam.
Aku
langsung memalingkan wajahku.
“Ya
mau bagaimana lagi, aku tidak punya keluarga di sini, dan aku tidak kenal kakak
tingkat satupun,” Aku mencoba berkata jujur.
Aku
memang anak yang pendiam di SMA dulu, sampai kakak kelaspun tidak ada yang ku
kenal.
“Kamu
tinggal di tempat teman Kakak saja dulu, Kakak sudah bilang ke dia kalau ada
adik kakak yang ingin menginap di rumahnya, dan dia sudah mengizinkan, jadi
kamu tidak perlu tidur di masjid,” Kak Arya menjelaskan seolah tidak ada
masalah sama sekali.
“Kok
Kakak mengambil keputusan tanpa bicara dengan orang yang bersangkutan dulu sih,
bagaimana kalau orangnya nanti tidak setuju atau tidak mau,” Aku sedikit kesal
juga dengan sikap Kak Arya yang seenaknya saja.
“Kamu
marah? Maaf, Kakak tidak bermaksud lancang, niat Kakak hanya ingin membantu
saja.”
Aku
menatap Kak Arya, matanya terlihat benar-benar tulus ingin membantu. Kini aku
yang semakin penasaran dengan Kak Arya.
“Kok
Kakak tau sih kalau aku tidak punya tempat tinggal,” Aku bertanya dengan penuh
selidik.
“Hahaha,
kamu itu mudah sekali di tebak Dewi, di keningmu sudah ada tulisan saya tidak
punya tempat tinggal, hahaha,” Kak Arya tertawa terbahak-bahak seolah sedang
menonton film komedi.
Aku
yang di tertawakan hanya diam dan menatapnya dengan tatapan sinis, tapi Kak
Arya semakin tertawa melihat ekspresiku.
Setelah
puas tertawa, Kak Arya mengantarku ke rumah temannya. Temannya sangat baik, ia
mau menampungku di sana, memberikan aku makan dan tempat istirahat. Ternyata Tuhan
memang sangat baik, Dia mempertemukan aku dengan orang-orang yang berhati
mulia.
Hari
terus berganti, tak terasa sudah hampir satu semester Aku di IPB. Sekarang Aku
sudah tinggal di asrama dan tidak menumpang lagi. Banyak hal yang aku lalui di
sini, dari saat MPKMB sampai kegagalan-kegagalan yang terjadi berulang kali,
misalnya saat mendaftar suatu organisasi Aku selalu gagal di seleksi wawancara.
Sifatku yang introvert menjadi
kendala utamaku di sini. Aku tidak ingin terus gagal, aku akan berusaha menjadi
yang terbaik. Saat wawancara BIDIKMISI aku sudah berjanji akan menjadi yang
terbaik dan memberikan yang terbaik. Aku tidak akan menyerah hanya karena suatu
kegagalan. Gagal bukan berarti tidak mampu, tapi kegagalan memberikan kita
pelajaran melalui pengalaman. Dengan kegagalan kita tahu kesalahan kita
sehingga kita bisa memperbaikinya di kemudian hari.
Salah
satu keinginan yang ingin ku raih adalah menjadi atlet panahan. Aku merasa
cocok dengan olahraga satu ini, karena panahan adalah olahraga yang membutuhkan
ketenangan dan kekuatan. Setiap hari Selasa dan Sabtu aku berlatih panahan,
mulai dari latihan fisik hingga tehnik memanah. Semua memang butuh proses dan
perjuangan, tidak semudah yang kita bayangkan.
Bulan
depan tepatnya bulan Januari akan diadakan pertandingan panahan antar Provinsi.
Aku mencoba memulai pengalamanku dengan mengikuti pertandingan tersebut.
Peserta yang mengikuti seleksi pertandingan tersebut tidaklah sedikit, jadi Aku
harus berjuang keras agar bisa menjadi salah satu peserta yang ikut bertanding.
Satu
bulan sebelum bertanding kami sudah mulai berlatih rutin setiap hari. Kami
latihan mulai dari pukul 16.00 sampai 20.30 malam. Setelah seminggu latihan,
karena kelelahan Aku sempat tidak bisa mengikuti latihan.
“Dewi,
Kamu yakin masih ingin mengikuti seleksi ini?” Tanya Kak Fajar selaku ketua
panahan di IPB.
Kak
Fajar tidak ingin ada anggota panahan yang sampai masuk rumah sakit gara-gara
memaksakan diri mengikuti seleksi. Tapi sudah sejauh ini Aku melangkah, Aku
tidak ingin menyerah begitu saja.
“Besok
saya pasti sudah baikan Kak, Saya hanya sedikit lelah saja, Saya tidak mau
menyerah di tengah jalan,”
Kak
Fajar tersenyum mendengar ucapanku, Dia tahu bagaimana besarnya keinginanku
untuk menjadi atlet panahan. Aku tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya, Aku
harus bisa merubah diriku menjadi lebih baik.
Kak
Arya juga selalu mendukungku, Dia memang tidak selalu di sampingku tapi dia
terus mengawasiku dari jauh. Dia sudah seperti Kakakku sendiri, Dia selalu
menasehatiku agar tidak lupa memberi kabar kepada orangtuaku.
Aku
juga mempunyai teman yang selalu mendukungku, yang selalu ada dalam keadaan
susah maupun senang, Mereka adalah Wanda dan Kiky. Mereka teman satu kamarku di
asrama, Wanda ikut panahan juga, sedangkan Kiky ikut agriaswara.
Setelah
cukup beristirahat akhirnya Aku bisa kembali mengikuti panahan. Setelah
melewati beberapa seleksi akhirnya aku terpilih menjadi salah satu atlet yang
akan bertanding nanti. Aku sempat ragu lagi untuk mengikuti pertandingan ini,
karena hari pertandingan bersamaan dengan hari dilaksanakannya Wisuda Kak Arya.
Aku ingin hadir di acara Wisuda Kak Arya, namun sekali lagi hatiku menegaskan Aku tidak akan berhenti di tengah jalan
dalam menggapai apa yang Aku inginkan.
“Wi
kamu serius tidak mau datang ke wisuda Kak Arya? Dia sudah seperti Kakakmu
sendiri loh, rasanya terlalu jahat kalau kamu tidak hadir di Wisudanya,” Wanda
merasa tidak setuju dengan keputusanku memilih mengikuti pertandingan.
“Tapi
Wan, Dewi sudah lama berjuang untuk menggapai mimpinya ini, tidak mungkin dia
mundur ketika selangkah lagi dia bisa menggapainya,” Kiky mencoba membelaku.
“Ki
acara wisuda ini sangat berharga bagi Kak Arya,”
“Wanda,
Kiky sudah jangan berdebat, oke nanti Aku akan pikirkan lagi,” Aku tidak ingin
salah mengambil keputusan, karena keduanya sangat penting bagiku.
Malamnya
Aku melaksanakan shalat istikharah. Setelah berhari-hari, Aku semakin yakin
dengan keputusanku untuk mengikuti pertandingan. Akhirnya Aku memutuskan untuk
tetap pada pilihan awalku.
“Kak
Arya, Aku minta maaf karena tidak bisa hadir di acara wisuda Kakak, bukannya
Aku menganggap Kakak tidak penting, tapi Aku ingin mewujudkan mimpiku kali ini,
Aku tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya,” Aku mencoba menjelaskan kepada
Kak Arya.
Kak
Arya tersenyum lalu menatap ke arahku.
“Dewi,
kejar mimpimu itu jika kamu memang yakin,” jawaban Kak Arya seolah memberi
semangat kepadaku.
“Terimakasih
Kak, Dewi akan berusaha sebaik mungkin,” Aku semakin yakin untuk melangkah ke
depan.
Izin
dari Kak Arya sudah cukup menghilangkan rasa raguku. Selain dukungan dari
orang-orang terdekatku disini, Aku juga meminta restu kepada kedua orangtuaku.
Tanpa restu dari mereka Aku merasa apa yang kulakukan tidak sempurna.
Hari
terus berganti, hari pertandingan pun telah tiba. Perasaan senang bercampur
cemas menjadi satu dalam benakku. Saat menatap arena lomba ada rasa bangga
tersendiri dalam hatiku. Di kejauhan ku lihat Kiky dan Wanda melambaikan tangan
berteriak memanggil namaku.
“Dewii
Ganbatte!!”
Aku
berdiri di samping Kak Fajar selaku penanggung jawabku. Aku menerawang kedepan
membayangkan wajah mereka, wajah orang-orang yang Aku sayangi.
Tuhan bantu Aku
mewujudkan mimpiku, Aku tidak ingin mengecewakan mereka, Aku ingin membuat
mereka bangga, Bismillahirrohmanirrohim Aku berserah diri kepadamu ya Allah.
Pertandingan
di mulai, skor yang di dapat peserta sangat bagus, sementara Aku dua kali
memanah berada di skor 8. Aku mulai cemas, satu kali lagi nilai yang menentukan
kedudukanku.
“Dewi
ayo berjuang! Kamu pasti bisa, kami mendukungmu!”
Suara
seseorang yang tidak asing terdengar meneriakkan semangat untukku. Aku melihat
disana berdiri orang-orang yang tak mungkin ku lupakan.
Ibu, Bapak, Kak Arya,
Wanda, Kiky
Jantungku
berdetak melihat mereka, rasanya Aku ingin menangis. Aku menatap tajam ke arah
papan target, titik tengah itu adalah mimpiku, Aku harus bisa mencapainya.
Senyum mereka, suara mereka, seolah memberikan kekuatan pada anak panah yang
akan ku rilis.
Anak
panah itu meluncur deras ke arah papan target. Aku menatapnya dengan sejuta
rasa yang berkecamuk dalam hatiku. Semua berteriak dan berdiri ketika anak
panah itu mendarat di target, Aku terdiam tak percaya dengan yang kulihat. Anak
panah itu tepat mendarat di tengah lingkaran di skor x, skor tertinggi dalam
pertandingan.
Setelah
penilaian selesai aku di persilahkan mencabut anak panah itu, Aku berjalan
menuju ke arah papan target dengan rasa tak percaya, semua seolah hanya mimpi.
Aku mencabut anak panah itu dengan di saksikan berjuta orang di sana. Ku lihat
Kak Fajar tersenyum dengan mengangkat jempolnya dengan penuh rasa bangga.
Pengumuman
pemenang dan pembagian medali pun selesai di laksanakan. Aku mengangkat piala
yang ku dapat, Aku memandangi medali emas yang di kalungkan di leherku.
Medali emas pertamaku,
medali emas yang ku dapatkan dengan perjuangan yang sulit, medali emas yang
membuat mereka tersenyum, Aku harus menjaganya sampai kapan pun.
Kak
Arya dan keluarganya serta kedua orangtuaku datang menyambutku. Ibuku langsung
memelukku dengan tangis bahagia, Bapakku ikut terharu. Baru kali ini Aku
melihat Bapakku menitikkan air mata, padahal selama ini Aku mengenal Bapakku
dengan sifatnya yang keras. Ternyata di dalam hatinya penuh dengan rasa sayang
yang tak bisa di gantikan oleh siapapun.
“Kita
foto dulu yuk dengan srikandi kita dan sarjana kita,” Kak Fajar mengajak kami
berfoto.
Kami
berfoto bersama, Kak Arya masih memakai baju wisudanya lengkap, ia ingin Aku
ikut berfoto di wisudanya. Kak Arya memberiku bunga Anggrek ungu kesukaanku,
Wanda dan Kiky memberiku boneka Winnie the pooh, dan Kak Fajar memberiku
sekotak cokelat.
“Kak
maaf Aku tidak memberi hadiah untuk wisuda Kakak,” Aku merasa bersalah karena
terlalu fokus dengan pertandingan hingga lupa membeli hadiah untuk Kak Arya.
“Kemenangan
kamu ini adalah hadiah terbesar untuk Kakak,” Kak Arya tersenyum sambil menepuk
pundakku.
Aku
bahagia sekali hari ini.
Terimakasih Tuhan telah
mewujudkan mimpiku, Aku janji akan meneruskan perjuanganku dan membuat
Indonesia menjadi yang terbaik di mata dunia, Aku janji akan menjaga senyum
mereka. Aku memang tidak bisa seperti mereka, tapi Aku bisa sukses dengan
caraku sendiri, karena sesungguhnnya Tuhan telah memberikan kesuksesan
tersendiri kepada kita, hanya kita saja yang harus berjuang bagaimana cara
menggapai kesuksesan itu. Ingat! hasil tidak akan menghianati proses.
My story is my world ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar