Minggu, 17 Desember 2017

All Of You



Tring! Tring! Tralala la la!

Bunyi alarm membangunkanku dipagi hari, Aku terbangun dengan senyum di wajahku, bergegas mengambil ranselku dan memasukkan beberapa pakaian serta perlengkapan lain, kemudian Aku bergegas mandi dan berganti baju.

Aku berjalan sambil sedikit berlari melompat menuju ke asrama sahabatku, Ira. Hari ini kami berencana berlibur ke Suaka Elang, Bogor. Kami ingin menikmati indahnya pemandangan di sana, mendaki bukit, berfoto di hutan pinus, dan bermain di bawah derasnya air terjun atau yang biasa di sebut ‘Curug’. Kami ingin melepas penat setelah menjalani UTS.
“ Iraaa, ayoo kita berangkat, kita jemput Fanny dan Marshel juga,”

“ Ayo lah brooh” Ira menjawab dengan gayanya yang unik.

Aku, Ira, Fanny, dan Marshel berangkat bersama, sementara teman kami yang laki-laki menunggu di pintu gerbang berlin kampus IPB. Sesampainya di sana Aku melihat Siddiq, Doni, dan Guruh sudah menunggu kami.
“Haii!” Aku melambaikan tangan kearah mereka      

“Hei ayok kita berangkat, nanti kesiangan loh,” Siddiq mengingatkan kami.

“Ayok broh, let’s go!” Fanny berteriak dan langsung naik ke dalam angkot yang sudah disewa oleh Siddiq.
           
Wajah kami terlihat bahagia, sudah tidak sabar rasanya ingin sampai di sana, Selama diperjalanan tidak henti-hentinya kami bercanda. Aku yang diamanatkan sebagai penunjuk jalan, tapi Aku lupa jalan yang pernah Aku lalui, jadi kami harus berhenti dan bertanya kepada warga sekitar. Aku merasa ini perjalanan yang wahh sempurna, Aku merasa benar-benar sedang berpetualang.
           
Setelah melalui perjalanan menggunakan angkot yang cukup lama, kami sampai di Desa Loji. Perjalanan kami belum selesai, dari desa ini kami harus berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan. Sebagai penunjuk jalan, Aku berjalan paling depan. Kami melihat pemandangan puncak yang sangat indah dan udara yang dingin. Di sepanjang jalan di penuhi dengan batu-batuan dan aliran air, suara derasnya air sungai juga terdengar jelas.
“Ira, tuh di bawah ada sungai, katanya di Kepulauan Riau tidak ada sungai, hahaha,”  Siddiq berkata mengejek Ira. Kami semua tertawa, Ira juga ikut tertawa. Ira memang pernah bercerita kepada kami kalau dia belum pernah melihat sungai.

“Wahh mbahku harus ku ajak kesini nih, beliau harus tahu kalau disini tempatnya sangat bagus, ada sungainya lagi, airnya jernih bangeeett,” Ira terus melihat kearah sungai, dan terus berkata “Mbahku harus kuajak kesini”. Hahaha kami tidak bisa berhenti tertawa mendengar perkataan Ira.

“Ra emang mbahmu kuat naik bukit ini?” Tanya Guruh sambil terus tertawa.
           
“Weee jangan salah broh, mbahku udah pernah naik ke Gunung Bintan, Aku aja belum loh,” Ira berkata membanggakan mbahnya.
           
“Wiihhh kereeen,” kami berkata bersamaan.
           
“Iya, makanya sekarang cucunya mau belajar seperti mbahnya, naik-naik ke gunung,” Ira terus bercerita dengan suara lucunya.
           
Perjalanan jauh tak terasa melelahkan, kami semua terhibur dengan celoteh Ira dan yang lainnya. Hingga kemudian kami sampai di tepi sungai.
“Wahh kok jembatannya hilang,” Aku memeriksa sekeliling kami, benar jembatan yang biasa untuk menyebrang tidak ada lagi.
           
“Guys, sepertinya jembatan untuk menyebrangnya hanyut, karena jembatannya hanya terbuat dari bambu, air sungainya juga deras jadi pasti hanyut,” Aku memberitahu mereka.
           
“Yahh terus gimana nih, masa iya kita harus balik lagi?” Tanya Marshel.
           
“jangaaan!” jawab kami serentak.
           
“Kita udah sampai sini, kita tidak boleh menyerah, jembatan boleh hanyut, tapi semangat kita tidak boleh hanyut,” Siddiq menyemangati kami dengan berusaha mencari cara agar bisa sampai ke sebrang sungai.
           
Doni sang jenius mendapatkan ide.
“Jembatan bisa hanyut, tapi batu disungai kan tidak akan hanyut, kalian generasi kuat, tidak mungkin tidak bisa melewati derasnya sungai ini. Ayo kita loncat diatas batu-batu ini untuk sampai ke sebrang sana!” Doni berkata dengan gaya Pak Soekarno.
           
“Ayo berjuanglah pemuda!” kamipun ikut bersemangat.
           
Banyak pengunjung lain yang tertawa melihat ulah kami, tapi kami tidak malu, malah kami bersyukur ada yang tertawa karena kami. Setelah berhasil melewati sungai, kami masih harus melewati bukit dan hutan pinus untuk sampai di air terjun. Sepanjang jalan kami terus bercerita tentang mbahnya Ira, bernyanyi, atau sekedar menggosip gebetannya marshel.
           
Kamipun akhirnya sampai di hutan pinus, kesempatan tidak boleh disia-siakan. Kami berfoto bersama, foto-foto ini menjadi kenangan yang akan kami simpan nanti. Perjalanan menuju air terjun masih berlanjut, setelah melewati hutan pinus, kini kami harus melewati jalan berbatu. Tebing adalah salah satu masalah untukku, karena badanku yang tidak kurus alias tidak gendut juga, atau lebih tepatnya berisi, Aku berjalan agak lambat, tidak jarang sesekali Ira mendorongku agar tetap berjalan, atau Marshel dan Fanny yang menarikku dari atas. Kami juga kadang berhenti dipinggir jalan untuk istirahat minum, atau hanya sekedar untuk berfoto.
“Iraachan, itu tumbuhan apa ya? Kalau dipotong keluar coklat-coklat seperti madu,” Aku melihat sebuah pohon yang membuatku penasaran. Ira berjalan mendekati pohon itu, Aku tak menduga dengan apa yang dilakukan Ira, ia mencolek getah pohon itu lalu memakannya.
           
“Tidak ada rasanya, hambar,” Ira berkata dengan polosnya.
           
“Iraaaa kenapa dimakan, muntahin, nanti kalau beracun gimana,” Aku panik sendiri melihat tingkah Ira. Tapi sedikitpun Ira tidak menghiarukanku, ia mencolek getah pohon itu lagi dan mencoba mencari tahu rasa dari getah tersebut. Siddiq yang melihat tingkah Ira langsung menghampirinya.
           
“Ih Ira jorok, itu tadi bekas dikencingin orang loh,” Siddiq berkata sambil menunjuk pohon tadi. Spontan Ira langsung memuntahkan getah itu dan langsung mencari air.
           
“Ih Siddiq apa-apaan sih,” Ira memukul Siddiq. Kami tertawa tak henti-hentinya melihat kekonyolan Ira. Sahabatku satu ini memang terlalu polos.
           
“Kamu sih sembarangan makan sesuatu, kalau beracun gimana,” Guruh ikut menasehati Ira.
           
“Kan Feni penasaran, jadi Aku makan deh getahnya,” jawab Ira membela diri.
           
“Ya ngga harus dimakan juga kaliii,” jawab kami bersamaan, kemudian kami tertawa dan melanjutkan perjalanan.
           
Kami melewati jembatan kayu dipinggir tebing, tidak jauh dari ujung jembatan kami sudah bisa melihat indahnya air terjun yang menjuntai dari atas bukit hingga kebawah.
“Wahh indahnyaa!” kami terkagum-kagum melihat keindahan ciptaan tuhan satu ini.
           
Kami mempercepat jalan kami agar segera sampai dibawah air terjun. Ketika sampai, jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, saatnya melaksanakan shalat dzuhur. Kamipun shalat di atas batu dekat air terjun. Shalat kami terasa sangat khusyu’, kami seperti menyatu dengan alam. Setelah selesai melaksanakan kewajiban, kami langsung menceburkan diri ke air.
“Wahhh dingin!” kami berteriak setelah merasakan dinginnya air disana.
           
“Aku punya ide nih,” Fanny tiba-tiba keluar dari air, ia mengambil air mineral yang ada di dalam tasnya Siddiq kemudian menceburkan sebagian botol air tersebut kedalam air.
           
“Esensinya apa itu botolnya diceburin ke air?” Tanya Marshel.
           
“Itu namanya pendinginan alami, kita lihat saja nanti gimana hasilnya,” Fanny menjawab pertanyaan marshel dengan yakin.
           
Kami terus bermain di bawah air terjun, merasakan sakitnya tertimpa air terjun dari atas, bahkan Akupun tidak sanggup berlama-lama di bawah air terjun, percikan air itu seolah-olah menusuk kulit. Kami berhenti bermain setelah merasa lapar. Kamipun membuka bekal yang kami bawa dan memakannya dengan duduk diatas batu. Kami tidak membuang sampah sembarangan, karena keindahan wisata tidak boleh dicemari dengan tumpukan sampah. Fanny mengambil botol air mineral yang dicelupkannya ke air tadi, hasilnya botol itu berembun dan air didalamnya menjadi dingin, hal ini membuktikan betapa dinginnya air disana.
           
Setelah selesai makan dan istirahat kami langsung bergegas kembali menuju hutan pinus untuk berganti pakaian, dan melaksanakan shalat ashar di musholla yang ada disana. Selesai sholat ashar kami langsung turun bukit untuk pulang.
           
Di tepi sungai kami mulai mengambil strategi kembali untuk menyebranginya. Kali ini Siddiq duluan dan menunggu kami di sebrang, Guruh berdiri dibatu di tengah untuk membantu kamii menyebrang, sementara Doni mengawasi kami dari belakang. Aku siap-siap meloncat, dibatu pertama tidak sulit karena langsung disambut oleh tangan guruh. Pada batu selanjutnya, Aku meloncat dengan yakin, namun sayang Aku lupa untuk melepas tangan Guruh, akhirnya kakiku tidak sampai menginjak tengah batu dan terpleset. Siddiq yang melihatku terhuyung langsung mencoba menangkap tanganku, tapi tenyata tidak berhasil, alhasil Aku tercebur diderasnya sungai. Guruh langsung berlari, Siddiq langsung meloncat ke sungai dan langsung menarikku keatas. Semua orang yang melihat langsung menertawakan Aku yang tercebur. Kali ini Aku benar-benar malu, kali ini Aku tidak bersyukur ada yang tertawa karena Aku. Siddiq langsung mengambil ranselku dan membawanya.
“Kamu tidak apa-apa kan? Ada yang sakit?” Tanya Siddiq khawatir. Teman-teman yang lain pun langsung menghampiriku.
           
“Tidak apa-apa, tidak ada yang sakit kok, tapi malu bajuku basah semua,” jawabku dengan raut wajah sedih.
           
“Makanya, kalau mau menyambut tangan orang yang didepan, lepasin dulu tangan yang lain, kamu ngga akan bisa memegang tanga keduanya,” Siddiq menasehatiku.
           
“Tidak apa-apa, tadi kan kecelakaan, nanti kering kok bajunya,” Guruh mencoba menghiburku.
           
“Eeh tolongin sendalku hanyut!” tiba-tiba kami mendengar Fanny berteriak. Kami langsung menoleh, Doni yang berada di tepi sungai langsung mengejar sendal Fanny dan mengambilnya dengan kayu.
           
Kami tertawa melihat tingkah Fanny yang panik, Aku pun sudah tidak menghiraukan lagi kejadian tadi. Kamipun pulang ke asrama dengan bahagia. Aku yang tercebur ke sungai malah menjadi bahan cerita kami jika berkumpul. Apabila Aku mengusulkan untuk berlibur ke daerah yang melewati sungai mereka selalu meledekku “Nanti kalau kecebur sungai lagi gimana?”.
           
Hahaha! Kalian, Aku harap kalian selalu bersamaku, selalu ada saat kita bahagia, selalu saling menguatkan dan memberi semangat saat kita terpuruk, dan selalu mambantu untuk bangkit saat kita terjatuh. Ingat kisah kita ini untuk selamanya.

@Marshela Aida Handayani @Irawati Cahyuni @Nur Afni Rahmaeni @Muhammad Fatchurrahman Siddiq @Muhammad Ramdhoni @Guruh Sukarno Putra

Motivasi Sebuah Kemenangan



Mentari menyambut cerahnya pagi, Aku duduk di atas batu di tepi pantai, Aku mengingat kembali masalah yang pernah Aku lalui. Aku mencatat kejadian-kejadian itu di selembar kertas.

Dear Dewi Aprilia 

Begitu banyak masalah yang pernah Aku lalui hingga saat ini, perjuanganku untuk kuliah di Institut Pertanian Bogor takkan pernah Aku lupakan. Aku pernah hampir menyerah untuk menggapai impianku, tapi Tuhan telah mengirim malaikatnya untuk membantuku melalui Kak Arya dan teman-teman yang selalu ada di sampingku. Aku pernah bermimpi ingin menjadi seorang srikandi yang mengharumkan nama Indonesia, sekarang ini Aku sedang berusaha mewujudkan impianku. Dewi apapun yang akan terjadi padamu di masa depan, bagaimanapun keadaanmu nanti, sebesar apapun masalah yang kau hadapi nanti, jangan pernah menyerah, ingatlah kata-kata Kak Arya “Dewi jika kamu sudah merasa lelah dan putus asa, ingatlah cita-citamu, lihatlah teman-temanmu yang telah berhasil, mereka bisa mewujudkan mimpi mereka, kamu juga pasti bisa! Sebesar apapun masalahmu yakinlah Tuhan akan selalu membantumu.” Kata-kata Kak Arya itu selalu menjadi penyemangatku. Ayah dan Ibu, mereka adalah penyemangat terbesar dalam hidupku. Tunggu Aku pulang Ayah, Ibu, do’akan anakmu disini. Aku tidak akan pernah menyerah, Aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik! Semangat Dewi!

Surat yang telah ku tulis itu Aku gulung dan kumasukkan kedalam sebuah botol. Aku melempar botol itu ke laut.
“Terimakasih Tuhan, terimakasih telah membantuku, walaupun Kak Arya sekarang sudah tidak di sini lagi Aku yakin Aku tetap bisa menghadapi masalah yang Aku alami. Semangat Dewi!” Aku melempar botol itu sekuat mungkin, Aku biarkan ombak di laut membawa botol itu pergi.

“Aduh! Siapa sih yang sembarangan membuang botol ke laut,” tanpa Aku sadari ternyata botol yang kulempar itu jatuh tepat di kepala seorang pemuda yang sedang menyelam.

Aku berlari menuju tempat latihan panahan, sudah banyak anak-anak panahan dan juga Kak Fajar yang menungguku.

“Dewi kamu dari mana? Latihan sudah mau di mulai, kamu pergi tidak bilang-bilang,” Kak Fajar terlihat khawatir.

“Maaf kak, aku tadi ingin melihat-lihat laut,” Aku meminta maaf kepada Kak Fajar.
“Ya sudah, ambil busurmu sana, sekarang kita mulai latihan,”

Aku mengambil busurku dan bersiap untuk latihan. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku mengangkat panggilan itu.

“Assalamu’alaikum,” Aku mendengar suara ibuku berbicara di seberang sana.
Ibuku mengabariku bahwa kakak perempuanku sakit. Kakakku dulu memang sering sakit maag. Sekarang kakakku sakit gastritis erosif, penyakit yang di sebabkan karena terlalu banyak meminum obat-obatan, sehingga menyebabkan peradangan lambung. Kakakku harus dirawat di rumah sakit, sementara Ibu dan Ayahku belum  mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit.
Aku terdiam mendengar kabar dari Ibuku, Aku memandangi busur yang baru ku beli dari uang hasil lomba waktu itu (*baca cerpen Perjuangan Sang Srikandi).

“Seharusnya Aku tidak membeli busur ini,”

“Dewi ada apa? Ada yang tidak beres dengan busurmu?” Tanya Kak Fajar.

“Iya Kak sangat tidak beres, seharusnya Aku tidak membeli busur ini,” Aku menyesal membeli busur itu, jika Aku tidak membeli busur itu mungkin Aku sekarang sudah bisa membantu ibuku membayar biaya rumah sakit Kakakku.

“Sangat tidak beres? Kok bisa, Kakak lihat busurmu bagus kok, tidak ada yang salah dengan busurmu,” Kak Fajar mengambil busur yang sedang ku pegang. 

“Kak Aku tidak latihan dulu ya hari ini,” Aku mengambil busurku dan beranjak pergi meninggalkan Kak Fajar.

“Kenapa tidak mau latihan? Perlombaannya tinggal tiga hari lagi loh, kita harus fokus latihan,” Kak Fajar mencoba mencegahku pergi.

“Aku tidak tahu harus melanjutkan perlombaan ini atau harus menjual busur ini,” Aku tidak mau mendengarkan Kak Fajar dan langsung berlari pergi.

“Dewi kamu mau kemana?” Kak Fajar terus memandangku yang berlari meninggalkannya. Kak Fajar tahu Aku pasti sedang ada masalah, ia membiarkanku menenangkan diri.

Aku duduk di atas batu, Aku menatap laut yang terbentang, Aku masih bingung harus berbuat apa.
“Aku jual saja busur ini, lalu Aku kirimkan uangnya ke Ibuku,” Aku memandangi busur kesayanganku itu.

“Tapi Aku tidak ingin menjualnya, busur kesayanganku,”

Aku berdiri di atas batu, Aku melempar beberapa batu ke laut.

“Tuhaaaan! Apa yang harus Aku lakukan?” Aku berteriak berharap Tuhan mau memberiku petunjuk.
“Yang harus kamu lakukan sekarang adalah berhenti melemparkan batu ke laut,” 

Aku terkejut mendengar ada yang menjawab pertanyaanku, Aku menoleh dan melihat seorang pemuda berdiri di belakangku.

“Siapa kamu?” Aku bertanya kepada pemuda tersebut.

“Kamu Dewi kan? Saya Reyhan,” Dia tersenyum seolah-olah sudah mengenalku.

“Darimana kamu tahu namaku?” Aku merasa tidak pernah mengenal orang ini.

“Dari ini,” Dia menunjukkan botol dan kertas yang pernah ku lempar ke laut.

“Hei kamu membaca suratku yah, lancang sekali kamu!” Aku langsung merebut botol itu darinya.

“Lancang? Bukankah kata-kata itu harusnya Aku yang mengucapkan, kamu lihat kepalaku, kepalaku terluka gara-gara kamu lempar botol ini ke laut, seharusnya kamu tidak membuang barang-barang seperti ini ke laut, bisa mencemari ekosistem laut, dasar anak satu ini,” Dia memandangku dengan tatapan kesal.

“Maaf,” Aku akhirnya meminta maaf kepada Reyhan.

“Oke tidak apa-apa, kamu kenapa teriak-teriak sendiri disini? Kamu ada masalah?” Dia bertanya padaku.
Aku menceritakan semua masalahku pada Reyhan, entah kenapa Aku merasa sudah mengenal Reyhan sampai-sampai Aku berani curhat ke dia.

“Wi kamu buka dan baca surat yang kamu tulis itu,” Reyhan menyuruhku membaca surat yang ku pegang.
Aku membaca surat itu, Aku ingat kata-kata Kak Arya, Aku tidak boleh menyerah, semua pasti ada jalan keluarnya. Aku tersenyum ke arah Reyhan.

“Wi saran dari Aku, kamu jangan jual busur ini, kamu harus tetap ikut lomba dan memenangkan perlombaan itu, dengan begitu kamu bisa membantu biaya rumah sakit kakak kamu, tinggal selangkah lagi kamu mengikuti perlombaan ini, apa kamu akan menyerah sebelum berperang? Satu lagi Wi, simpan surat ini, jangan pernah membuangnya,” Reyhan seolah-olah memberikan cahaya terang untukku melangkah.
Aku mengikuti saran dari Reyhan. Ternyata Reyhan benar, Aku harus menyelesaikan apa yang sudah Aku mulai, Aku tidak boleh menyerah hanya karena satu permasalahan, kadangkala Tuhan mencoba membantu kita dengan memberikan cobaan kepada kita. Tuhan sengaja memberiku cobaan ini untuk memotivasiku di perlombaan, dan sekarang akhirya Aku bisa memenangkan perlombaan itu.
Aku mengirimkan uang hadiah lombaku kepada ibuku. Aku tersenyum memandang botol berisi surat yang ku pegang.

Aku tidak akan pernah membuang surat ini, Terimakasih Tuhan telah membantuku lagi kali ini, semoga Aku bisa bertemu Reyhan lagi. Benar, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya.

Perjuangan Sang Srikandi



            Aku terpaku memandang air laut yang bergejolak, anganku melayang pada keluargaku di Pulau Sumatera. Rasa bersalah terus menyelimuti benakku, namun Aku mencoba menghapus semua bayang-bayang itu.
            “Ibu, Bapak, maafkan Aku yang pergi meninggalkan kalian walaupun kalian tidak memberi restu sepenuhnya kepadaku, tapi aku janji! Aku akan pulang dengan membawa bendera kebanggan untuk kalian, aku tidak akan pulang dengan tangan hampa, Ibu, Bapak do’akan anakmu disini,” kata-kata itu terus terucap dalam hatiku.
            Dinginnya angin laut menusuk kulitku yang sedari tadi duduk sendirian di atas kapal. Kryuuk! Perutku terdengar berbunyi, tapi aku mencoba menahannya, karena Aku hanya membawa uang pas-pasan.
            “Permisi mbak, boleh Saya duduk di sini?” Tanya seorang pemuda yang tidak ku kenal kepadaku.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala, ia membalas senyumku dan duduk di sampingku. Aku melihat Dia memakan mie instan dengan lahapnya, aroma yang keluar dari mangkuknya membuat perutku kembali berbunyi.
            “Mbak mau mie? kebetulan saya membawa lebih” dia memberikan semangkuk mie kepadaku.
 Aku tidak mau langsung menerima pemberian orang yang tidak ku kenal, yah walaupun artinya aku berprasangka buruk terhadap orang lain.
            “Ah terimakasih, tapi maaf saya sudah kenyang,” Kryuuk! Baru saja Aku selesai bicara, tiba-tiba perutku sudah berbunyi, dan kali ini di dengar olehnya.
Wajahku langsung memerah, betapa malunya Aku. Dia tersenyum lalu kembali memberikan semangkuk mie itu.
            “Sudah tidak apa-apa mbak makan saja, saya ikhlas saya tidak berniat jahat kok,” Dia mencoba meyakinkanku.
Aku tidak enak hati mendengar perkataannya, seolah-olah Dia tahu kalau aku sudah berburuk sangka kepadanya. Aku mengambil mie itu lalu mengucapkan terimakasih, ia juga memberiku sebotol air mineral.
            “Mbak mau kemana?” ia kembali membuka pembicaraan.
            “Ke Bogor,” Aku hanya menjawab dengan singkat karena sedang menikmati mie instan yang di berinya tadi.
            “Wah sama, Saya juga mau ke Bogor, ke Institut Pertanian Bogor,” Dia menceritakan tujuannya walaupun Aku tidak menanyakannya.
Aku sedikit terkejut mendengar perkataannya, karena sebenarnya Aku juga akan pergi ke Institut Pertanian Bogor atau yang lebih di kenal dengan sebutan IPB.
            “Kamu mahasiswa di sana?” Rasa penasaranpun akhirnya tumbuh di dalam benakku.
“Iya, Saya mahasiswa semester tujuh di IPB,” jawabnya dengan tersenyum. Aku semakin terkejut, ternyata dia kakak tingkatku.
            “Mbak sendiri ke Bogor mau ke mana? Ke tempat keluarga atau hanya jalan-jalan saja?” Kali ini pertanyaannya tidak langsung Aku jawab.
 Jujur? Atau tidak? Pertanyaan itu menyelimuti benakku, apakah aku harus jujur?
“Atau mbak mahasiswi IPB ya?” pertanyaannya hampir membuatku tersedak.
Apakah dia bisa membaca pikiran orang lain? Aku memandangnya dengan tatapan aneh. Dia mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan tatapanku.
            “Mbak?” tanyanya sekali lagi membuatku tersadar dan langsung mengalihkan pandangan.
            “Emm, sebenarnya saya mau ke IPB juga, saya mahasiswa baru di IPB,” jawabku dengan malu.
Ya aku malu karena sudah merepotkan orang lain yang ternyata adalah seniorku. Aku melihat raut wajahnya berubah ketika mendengar jawabanku, ia tampak seperti sedang bertemu dengan keluarganya.
Hemm orang yang ramah
“Wah ternyata kamu mahasiswi IPB, perkenalkan nama Saya Arya, Saya dari departemen Budidaya Perairan,” Kak Arya mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku menyambut tangannya dan memperkenalkan diriku juga.
“Nama Saya Dewi dari departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, salam kenal Kak,” Aku tersenyum dan mencoba bersikap ramah kepada Kak Arya.
Tanpa Kami sadari ternyata kapal yang kami naiki telah sampai di Pelabuhan Merak, kami segera menuju bis dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat. Lima jam kemudian kami akhirnya sampai di IPB. Aku merasa sangat lega, akhirnya aku bisa mengakhiri perjalananku yang sangat melelahkan. Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, sementara aku melakukan wawancara pukul 09.00 WIB. Aku duduk di halte Fakultas Pertanian, Aku masih bingung harus kemana, IPB masih terlihat sangat asing bagiku. Aku melihat ke sekeililingku.
Dimana Kak Arya?
Tiba-tiba saja Kak Arya menghilang tanpa pamit. Padahal aku berharap dia menemaniku sampai aku selesai wawancara. Tapi itu tidak mungkin, dia punya kesibukan lain. Aku? Aku hanya orang yang baru di kenalnya beberapa jam lalu, tidak mungkin dia lebih mementingkan Aku.
“Dewi, nih Kakak belikan minum, kamu pasti haus kan?”
Aku langsung menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kak Arya berdiri di sampingku sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam sebotol minuman.
Huh sudah berapa kali aku berburuk sangka kepada Kak Arya.
Aku mengambil minuman yang di berikannya kepadaku, Aku membuka minuman itu dan langsung meminumnya sampai habis.
“Huwaa, hahaha ternyata kamu sangat haus ya Wi,” Kak Arya tertawa, kemudian ia duduk di sampingku.
“Kamu mau menginap dimana?” Tanya Kak Arya kepadaku.
Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak tahu harus tinggal dimana, tujuanku dari awal hanya kampus IPB, Aku tidak memikirkan tempatku tinggal dimana. Seandainya Aku harus tinggal di masjid, maka Aku akan tidur di masjid. Tekadku sudah bulat untuk menuntut ilmu disini, Aku tidak takut dengan kemungkinan yang ada.
“Wi jangan bilang kamu mau tinggal di masjid.”
“Hah!” Aku langsung menoleh ke arah Kak Arya dengan tatapan aneh.
Kakak satu ini benar-benar bisa membaca pikiran orang lain.
“Kok tatapannya begitu sih? Jangan-jangan benar ya kamu mau tinggal di masjid,” Kini Kak Arya balik menatapku dengan tatapan tajam.
Aku langsung memalingkan wajahku.
“Ya mau bagaimana lagi, aku tidak punya keluarga di sini, dan aku tidak kenal kakak tingkat satupun,” Aku mencoba berkata jujur.
Aku memang anak yang pendiam di SMA dulu, sampai kakak kelaspun tidak ada yang ku kenal.
“Kamu tinggal di tempat teman Kakak saja dulu, Kakak sudah bilang ke dia kalau ada adik kakak yang ingin menginap di rumahnya, dan dia sudah mengizinkan, jadi kamu tidak perlu tidur di masjid,” Kak Arya menjelaskan seolah tidak ada masalah sama sekali.
“Kok Kakak mengambil keputusan tanpa bicara dengan orang yang bersangkutan dulu sih, bagaimana kalau orangnya nanti tidak setuju atau tidak mau,” Aku sedikit kesal juga dengan sikap Kak Arya yang seenaknya saja.
“Kamu marah? Maaf, Kakak tidak bermaksud lancang, niat Kakak hanya ingin membantu saja.”
Aku menatap Kak Arya, matanya terlihat benar-benar tulus ingin membantu. Kini aku yang semakin penasaran dengan Kak Arya.
“Kok Kakak tau sih kalau aku tidak punya tempat tinggal,” Aku bertanya dengan penuh selidik.
“Hahaha, kamu itu mudah sekali di tebak Dewi, di keningmu sudah ada tulisan saya tidak punya tempat tinggal, hahaha,” Kak Arya tertawa terbahak-bahak seolah sedang menonton film komedi.
Aku yang di tertawakan hanya diam dan menatapnya dengan tatapan sinis, tapi Kak Arya semakin tertawa melihat ekspresiku.
Setelah puas tertawa, Kak Arya mengantarku ke rumah temannya. Temannya sangat baik, ia mau menampungku di sana, memberikan aku makan dan tempat istirahat. Ternyata Tuhan memang sangat baik, Dia mempertemukan aku dengan orang-orang yang berhati mulia.
Hari terus berganti, tak terasa sudah hampir satu semester Aku di IPB. Sekarang Aku sudah tinggal di asrama dan tidak menumpang lagi. Banyak hal yang aku lalui di sini, dari saat MPKMB sampai kegagalan-kegagalan yang terjadi berulang kali, misalnya saat mendaftar suatu organisasi Aku selalu gagal di seleksi wawancara. Sifatku yang introvert menjadi kendala utamaku di sini. Aku tidak ingin terus gagal, aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Saat wawancara BIDIKMISI aku sudah berjanji akan menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Aku tidak akan menyerah hanya karena suatu kegagalan. Gagal bukan berarti tidak mampu, tapi kegagalan memberikan kita pelajaran melalui pengalaman. Dengan kegagalan kita tahu kesalahan kita sehingga kita bisa memperbaikinya di kemudian hari.
Salah satu keinginan yang ingin ku raih adalah menjadi atlet panahan. Aku merasa cocok dengan olahraga satu ini, karena panahan adalah olahraga yang membutuhkan ketenangan dan kekuatan. Setiap hari Selasa dan Sabtu aku berlatih panahan, mulai dari latihan fisik hingga tehnik memanah. Semua memang butuh proses dan perjuangan, tidak semudah yang kita bayangkan.
Bulan depan tepatnya bulan Januari akan diadakan pertandingan panahan antar Provinsi. Aku mencoba memulai pengalamanku dengan mengikuti pertandingan tersebut. Peserta yang mengikuti seleksi pertandingan tersebut tidaklah sedikit, jadi Aku harus berjuang keras agar bisa menjadi salah satu peserta yang ikut bertanding.
Satu bulan sebelum bertanding kami sudah mulai berlatih rutin setiap hari. Kami latihan mulai dari pukul 16.00 sampai 20.30 malam. Setelah seminggu latihan, karena kelelahan Aku sempat tidak bisa mengikuti latihan.
“Dewi, Kamu yakin masih ingin mengikuti seleksi ini?” Tanya Kak Fajar selaku ketua panahan di IPB.
Kak Fajar tidak ingin ada anggota panahan yang sampai masuk rumah sakit gara-gara memaksakan diri mengikuti seleksi. Tapi sudah sejauh ini Aku melangkah, Aku tidak ingin menyerah begitu saja.
“Besok saya pasti sudah baikan Kak, Saya hanya sedikit lelah saja, Saya tidak mau menyerah di tengah jalan,”
Kak Fajar tersenyum mendengar ucapanku, Dia tahu bagaimana besarnya keinginanku untuk menjadi atlet panahan. Aku tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya, Aku harus bisa merubah diriku menjadi lebih baik.
Kak Arya juga selalu mendukungku, Dia memang tidak selalu di sampingku tapi dia terus mengawasiku dari jauh. Dia sudah seperti Kakakku sendiri, Dia selalu menasehatiku agar tidak lupa memberi kabar kepada orangtuaku.
Aku juga mempunyai teman yang selalu mendukungku, yang selalu ada dalam keadaan susah maupun senang, Mereka adalah Wanda dan Kiky. Mereka teman satu kamarku di asrama, Wanda ikut panahan juga, sedangkan Kiky ikut agriaswara.
Setelah cukup beristirahat akhirnya Aku bisa kembali mengikuti panahan. Setelah melewati beberapa seleksi akhirnya aku terpilih menjadi salah satu atlet yang akan bertanding nanti. Aku sempat ragu lagi untuk mengikuti pertandingan ini, karena hari pertandingan bersamaan dengan hari dilaksanakannya Wisuda Kak Arya. Aku ingin hadir di acara Wisuda Kak Arya, namun sekali lagi hatiku menegaskan Aku tidak akan berhenti di tengah jalan dalam menggapai apa yang Aku inginkan.
“Wi kamu serius tidak mau datang ke wisuda Kak Arya? Dia sudah seperti Kakakmu sendiri loh, rasanya terlalu jahat kalau kamu tidak hadir di Wisudanya,” Wanda merasa tidak setuju dengan keputusanku memilih mengikuti pertandingan.
“Tapi Wan, Dewi sudah lama berjuang untuk menggapai mimpinya ini, tidak mungkin dia mundur ketika selangkah lagi dia bisa menggapainya,” Kiky mencoba membelaku.
“Ki acara wisuda ini sangat berharga bagi Kak Arya,”
“Wanda, Kiky sudah jangan berdebat, oke nanti Aku akan pikirkan lagi,” Aku tidak ingin salah mengambil keputusan, karena keduanya sangat penting bagiku.
Malamnya Aku melaksanakan shalat istikharah. Setelah berhari-hari, Aku semakin yakin dengan keputusanku untuk mengikuti pertandingan. Akhirnya Aku memutuskan untuk tetap pada pilihan awalku.
“Kak Arya, Aku minta maaf karena tidak bisa hadir di acara wisuda Kakak, bukannya Aku menganggap Kakak tidak penting, tapi Aku ingin mewujudkan mimpiku kali ini, Aku tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya,” Aku mencoba menjelaskan kepada Kak Arya.
Kak Arya tersenyum lalu menatap ke arahku.
“Dewi, kejar mimpimu itu jika kamu memang yakin,” jawaban Kak Arya seolah memberi semangat kepadaku.
“Terimakasih Kak, Dewi akan berusaha sebaik mungkin,” Aku semakin yakin untuk melangkah ke depan.
Izin dari Kak Arya sudah cukup menghilangkan rasa raguku. Selain dukungan dari orang-orang terdekatku disini, Aku juga meminta restu kepada kedua orangtuaku. Tanpa restu dari mereka Aku merasa apa yang kulakukan tidak sempurna.
Hari terus berganti, hari pertandingan pun telah tiba. Perasaan senang bercampur cemas menjadi satu dalam benakku. Saat menatap arena lomba ada rasa bangga tersendiri dalam hatiku. Di kejauhan ku lihat Kiky dan Wanda melambaikan tangan berteriak memanggil namaku.
“Dewii Ganbatte!!”
Aku berdiri di samping Kak Fajar selaku penanggung jawabku. Aku menerawang kedepan membayangkan wajah mereka, wajah orang-orang yang Aku sayangi.
Tuhan bantu Aku mewujudkan mimpiku, Aku tidak ingin mengecewakan mereka, Aku ingin membuat mereka bangga, Bismillahirrohmanirrohim Aku berserah diri kepadamu ya Allah.
Pertandingan di mulai, skor yang di dapat peserta sangat bagus, sementara Aku dua kali memanah berada di skor 8. Aku mulai cemas, satu kali lagi nilai yang menentukan kedudukanku.
“Dewi ayo berjuang! Kamu pasti bisa, kami mendukungmu!”
Suara seseorang yang tidak asing terdengar meneriakkan semangat untukku. Aku melihat disana berdiri orang-orang yang tak mungkin ku lupakan.
Ibu, Bapak, Kak Arya, Wanda, Kiky
Jantungku berdetak melihat mereka, rasanya Aku ingin menangis. Aku menatap tajam ke arah papan target, titik tengah itu adalah mimpiku, Aku harus bisa mencapainya. Senyum mereka, suara mereka, seolah memberikan kekuatan pada anak panah yang akan ku rilis.
Anak panah itu meluncur deras ke arah papan target. Aku menatapnya dengan sejuta rasa yang berkecamuk dalam hatiku. Semua berteriak dan berdiri ketika anak panah itu mendarat di target, Aku terdiam tak percaya dengan yang kulihat. Anak panah itu tepat mendarat di tengah lingkaran di skor x, skor tertinggi dalam pertandingan.
Setelah penilaian selesai aku di persilahkan mencabut anak panah itu, Aku berjalan menuju ke arah papan target dengan rasa tak percaya, semua seolah hanya mimpi. Aku mencabut anak panah itu dengan di saksikan berjuta orang di sana. Ku lihat Kak Fajar tersenyum dengan mengangkat jempolnya dengan penuh rasa bangga.
Pengumuman pemenang dan pembagian medali pun selesai di laksanakan. Aku mengangkat piala yang ku dapat, Aku memandangi medali emas yang di kalungkan di leherku.
Medali emas pertamaku, medali emas yang ku dapatkan dengan perjuangan yang sulit, medali emas yang membuat mereka tersenyum, Aku harus menjaganya sampai kapan pun.
Kak Arya dan keluarganya serta kedua orangtuaku datang menyambutku. Ibuku langsung memelukku dengan tangis bahagia, Bapakku ikut terharu. Baru kali ini Aku melihat Bapakku menitikkan air mata, padahal selama ini Aku mengenal Bapakku dengan sifatnya yang keras. Ternyata di dalam hatinya penuh dengan rasa sayang yang tak bisa di gantikan oleh siapapun.
“Kita foto dulu yuk dengan srikandi kita dan sarjana kita,” Kak Fajar mengajak kami berfoto.
Kami berfoto bersama, Kak Arya masih memakai baju wisudanya lengkap, ia ingin Aku ikut berfoto di wisudanya. Kak Arya memberiku bunga Anggrek ungu kesukaanku, Wanda dan Kiky memberiku boneka Winnie the pooh, dan Kak Fajar memberiku sekotak cokelat.
“Kak maaf Aku tidak memberi hadiah untuk wisuda Kakak,” Aku merasa bersalah karena terlalu fokus dengan pertandingan hingga lupa membeli hadiah untuk Kak Arya.
“Kemenangan kamu ini adalah hadiah terbesar untuk Kakak,” Kak Arya tersenyum sambil menepuk pundakku.
Aku bahagia sekali hari ini.
Terimakasih Tuhan telah mewujudkan mimpiku, Aku janji akan meneruskan perjuanganku dan membuat Indonesia menjadi yang terbaik di mata dunia, Aku janji akan menjaga senyum mereka. Aku memang tidak bisa seperti mereka, tapi Aku bisa sukses dengan caraku sendiri, karena sesungguhnnya Tuhan telah memberikan kesuksesan tersendiri kepada kita, hanya kita saja yang harus berjuang bagaimana cara menggapai kesuksesan itu. Ingat! hasil tidak akan menghianati proses.


My story is my world ;)